Categories
News

Ide Desain Rumah Mewah di Jakarta

apa yang haruS Kita laKuKan pada hunian, jika kita memiliki kegemaran mengoleksi aneka ragam pernak-pernik hasil melancong? atau memiliki banyak benda yang beragam pada rumah, mulai dari mainan anak, hingga buku-buku, namun ingin tetap memiliki hunian yang tampil apik dan tetap rapi? Yang menjadi pertimbangan tentunya adalah menentukan titik-titik yang tepat untuk kita jadikan area penyimpanan, bukan? Hal tersebut yang kemudian menjadi pertimbangan bagi oky Putranto, ketika ditantang oleh pemilik rumah untuk mendesain interior rumah mereka yang juga dapat menampung banyak barang, namun tanpa menjadi terkesan berantakan. salah satu cara yang diterapkan oleh oky adalah dengan menggunakan ambalan di hampir setiap ruang. Hanya ruang tamu yang boleh dibilang tidak menggunakan ambalan. “ruang tamu memang didesain agak berbeda, yakni ada nuansa klasik untuk memenuhi keinginan dari istri pemilik yang menginginkan konsep tersebut ada di rumahnya,” aku oky. Campuran dari klasik dan minimalis disampaikan melalui pemilihan furnitur, dan wallpaper dengan motif batik. namun dinding ruang tidak dibuat penuh wallpaper karena khawatir nantinya akan terlalu ramai. Jadi hanya pada satu bagian dinding sebagai point of view dari ruang tersebut salah satu konsep storage yang menarik pada rumah tersebut adalah pada partisi antara ruang tamu dan ruang keluarga. agar ruang keluarga tidak terlalu terekspos, namun tetap memiliki fungsi, maka dibuatlah partisi berupa lemari 2 muka. Fungsinya, selain sebagai partisi, juga sebagai tempat memamerkan atau menyimpan barang.

Yang menjadi pertimbangan dalam merancang lemari tersebut adalah kebutuhan akan ruang dan penggunaan sebagai apa saja. Partisi berupa lemari ini juga dibuat menyambung hingga ke ruang keluarga agar tidak menjadi terlalu ramai. Di area ini, diakui oky, lebih mementingkan estetika. oleh karena itu, cermin digunakan agar tidak berkesan monoton. Cermin yang dipilih adalah cermin bronze agar tidak mengganggu pandangan ketika pemilik sedang menonton televisi. sebagian besar ruangan pada rumah ini memiliki storage dan cermin, namun dengan bentuk yang berbeda-beda agar tidak bosan dan terlihat lapang. Penggunaan partisi juga turut diterapkan pada kamar tidur utama. Pada area ini, ukuran ruangnya memang cukup luas, sehingga oky membaginya menjadi 2 bagian, yakni area tidur dan area bekerja. seperti halnya pada ruang keluarga, partisi pada kamar tidur utama juga didesain agar dapat menjadi storage.

interior ruangannya juga dirancang agar 2 aktivitas pada kamar tersebut, yakni tidur dan bekerja, tidak saling mengganggu. karena itu, sarana yang berhubungan dengan hiburan kemudian banyak diaplikasikan pada area tidur. ruang-ruang pada rumah tersebut memang didesain dengan konsep yang berbeda-beda. Misalnya nuansa klasik pada ruang utama, modern pada dapur dan minibar, hingga ceria dan playfull pada kamar anak. namun kesinambungan antar ruang tetap terjaga melalui penggunaan storage di hampir setiap ruang, baik itu yang tersembunyi, maupun terekspos, hingga pemilihan beberapa jenis sofa yang juga memiliki fungsi penyimpanan. Tentu ini dengan maksud agar keinginan pemilik untuk mendapatkan banyak area penyimpanan yang tetap memiliki nilai estetis, terpenuhi.

PeNjAgA SekAligUS eStetikA

salah satu hal yang menarik perhatian pada rumah tersebut adalah penggunaan besi yang dibuat atraktif pada tangga. Permainan pola besi yang dibuat saling silang pada tangga karena lebih modern dan menarik. selain itu, penyusunan dengan pola tersebut juga disesuaikan dengan mempertimbangkan kondisi anakanak pemilik rumah yang masih balita, untuk menjaga keselamatan mereka saat menaiki tangga.

MeNAtA BUkAN HANyA SoAl gAyA

awal keterlibatan oky Putranto dalam mengerjakan interior rumah ini adalah saat dihubungi oleh klien lama untuk mengerjakan interior dari rumah yang baru saja dibeli oleh rekannya. “sebelumnya, interiornya benarbenar kosong, jadi kita memang mulai dari nol. konsep interiornya sendiri minimalis, namun tetap ada sentuhan klasik. ide dalam mendesain interiornya adalah dengan menyesuaikan dengan keinginan pemilik yang menginginkan ada tempat-tempat untuk memajang suvenir-suvenir dari tiap-tiap negara yang mereka kunjungi. oleh karena itu furnitur pada rumah ini kebanyakan kita buat sendiri,” ujar oky

AReA ekStRA tAk teRDUgA

salah satu storage tersembunyi yang berada pada rumah tersebut adalah area penyimpanan yang berada persis di meja bar. Dengan pemilihan warna hitam pada bagian bawah meja, sekilas tidak nampak jika bagian bawah meja tersebut sebenarnya merupakan sebuah storage. apalagi pembuka pintunya hanya merupakan celah kecil yang juga tersembunyi persis di bawah meja. Jika tidak diperhatikan dengan lekat, maka hanya akan nampak seperti sebuah bidang hitam di bawah meja

Di lengkapi dengan Genset Jakarta Berkualitas.

Tak lupa rumah mewah ini dilengkapi dengan genset perkins. Genset berfungsi sebagai sumber listrik cadangan saat listrik dari PLN Padam. Genset di supply dari Agen jual genset jakarta PT Rajawali

Categories
News

Saat Rakyat Rindu Penjajah

Tahun depan, tampak- nya pemilihan umum di Indonesia akan menyaksikan calon baru dari “dinasti” lama: Tommy Soeharto dengan Partai Berkarya. Seperti yang digembar-gemborkan Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso, pada masa Orde Baru, keadaan lebih stabil dan murah sandang-pangan. Padahal, pada 2010, Mahkamah Agung memutuskan bahwa keluarga Soeharto harus membayar Rp 4,4 triliun. Dan, masih ada hal lain yang tak kalah mengerikan. Pada November 2015, hakim Pengadilan Rakyat International kasus 1965 menyatakan bahwa pemerintah Orde Baru bertanggung jawab atas 10 pelanggaran hak asasi manusia berat, yakni pembunuhan massal, pemusnahan, pemenjaraan, perbudakan, penyiksaan, penghilangan paksa, kekerasan seksual, pengasingan, propaganda palsu, keterlibatan negara lain, dan genosida. Jadi bagaimana mungkin penindas berjuta rakyat ini bisa bertahan sebagai ikon yang dibanggakan sebuah partai? Tanpa ragu, Priyo memproklamasikan bahwa ia “terhipnotis trah Soeharto”.

Sebenarnya, kerinduan terhadap penjajah bukan barang baru. Sebentar lagi, kita akan merayakan Hari Kemerdekaan, yang bisa diartikan dengan bebasnya sebuah negara dari penjajahan. Di sekolah-sekolah, tanggal 17 Agustus selalu dirayakan dan anak-anak mengamini bahwa penjajahan Belanda terhadap bangsa ini adalah keji. Pemerintah Belanda dianggap sebagai kekuasaan asing yang sudah merampas kedaulatan bangsa. Namun, sewaktu Indonesia baru merdeka, tidak segampang itu melupakan penjajah karena ekonomi Indonesia terpuruk. Adanya blokade pemerintah Belanda terhadap ekspor Indonesia dan berbagai penggembosan lain mampu mengacaukan negeri ini. Mata uang pemerintah kolonial Jepang dan mata uang Hindia Belanda masih beredar.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengeluarkan mata uang sendiri, yaitu uang De Javasche Bank. Tapi, ternyata, justru tiga mata uang ini terus beredar. Bahan makanan juga makin mahal. Banyak petani dan pedagang yang tidak mau menjual dagangan mereka karena tahu harga-harga akan melonjak dengan cepat. Setelah dagangan mereka terjual, uang yang diterima tidak bisa dibelikan kulakan baru karena harga sudah melonjak jauh. Akhirnya, beberapa pedagang memutuskan untuk menyimpan saja barang-barang itu di gudang. Obat-obatan juga banyak yang menghilang karena ditarik oleh pemerintah Belanda. Ada salah seorang teman saya yang bercerita bahwa pamannya terkena TBC dan akhirnya meninggal karena tidak dapat obat. Ironisnya, sang paman sempat mengungsi dan lari ke sana kemari menghindari kejaran Jepang dan Belanda, serta berhasil hidup. Matinya justru pada zaman kemerdekaan. Penjajah mana yang dengan ringan hati dan sukarela melepaskan tanah jajahan mereka? Tentara Jepang masih berkeliaran dan siap menghajar mereka yang dianggap prokemerdekaan. Tak lama kemudian, pemerintah Belanda dengan tentara NICA pun kembali untuk merebut kekuasaan. Tentu saja, dengan alasan yang sekarang kita dengar lagi dari mereka yang mendengungkan “Piye le, enak jamanku to?”, yaitu mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi. Jadi, ada cukup banyak orang yang kemudian juga merindukan Belanda untuk kembali waktu itu karena mereka merindukan stabilitas yang dijanjikan ini.

Kemerdekaan itu bukan perayaan, tapi proses yang penuh penderitaan. Hal serupa pun terjadi kini: kekuatan lama ingin kembali, berusaha membentuk pola pikir masyarakat agar percaya bahwa ketidakstabilan politik dan naiknya harga barang sekarang adalah akibat pemerintah baru. Akhirnya, ada saja rakyat yang merindukan “orang” lama karena dianggap lebih tegas. Mereka yang berpikiran pendek dengan mudah termakan slogan “Piye le, enak jamanku?”. Dalam slogan ini terdapat manipulasi yang sangat berbahaya dan menjerumuskan, yaitu kerinduan terhadap seorang tiran. Hal serupa sempat terjadi dalam sejarah Indonesia, saat bangsa ini baru merdeka, sehingga tanpa sadar mereka telah merindukan orang yang menjadi penyebab utama kekacauan negeri ini

Categories
News

Awas Petrus Gaya Baru

Operasi pemberantasan begal yang diadakan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya sepanjang Juli lalu harus segera dievaluasi karena terindikasi melanggar hak asasi manusia. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Ombudsman Republik Indonesia menemukan sejumlah kejanggalan yang mengarah pada praktik pembunuhan di luar peradilan (extrajudicial killings). Tujuan awal operasi itu, yakni memulihkan keamanan di Jakarta menjelang penyelenggaraan Asian Games dua pekan lagi, tentu patut didukung. Namun pelaksanaannya sungguh bermasalah. Kesaksian keluarga para tersangka begal yang tewas “didor” polisi mengenai kronologi kejadian bertolak belakang dengan versi kepolisian. Selama tiga pekan operasi, polisi menangkap lebih dari seribu begal di Ibu Kota. Ketika operasi diumumkan rampung pekan lalu, Polda Metro Jaya mengaku petugasnya sudah menembak 52 begal. Sebanyak 15 orang di antaranya tewas. Belakangan, Komnas HAM, Ombudsman, dan investigasi Koran Tempo menemukan beberapa fakta yang mengganggu soal rangkaian penembakan tersebut. Pertama, polisi mengklaim mereka terpaksa menembak mati tersangka begal karena melawan dan mencoba merebut pistol petugas. Keterangan para saksi mata menunjukkan hal sebaliknya: tersangka begal ditangkap relatif tanpa kisruh. Bahkan sebagian besar menyerah tanpa perlawanan.

Tak ada satu pun saksi yang mendengar suara tembakan ataupun baku hantam. Kedua, berdasarkan hasil pemeriksaan forensik pada mayat korban, tampak sebagian besar luka tembak korban ada di dada atau punggung. Tembakan peluru tepat di area jantung pasti mematikan. Tak hanya itu, hasil pemeriksaan terhadap mayat korban juga tak menemukan memar atau luka tembak lain di tubuh korban. Ini membuktikan tidak ada perlawanan ketika polisi menembak mati para tersangka. Temuan awal ini tentu harus ditelusuri lebih lanjut. Itulah sebabnya Komnas HAM dan Ombudsman meminta bantuan dan kerja sama petinggi Polda Metro Jaya untuk mengusut tuntas kasus ini. Sayangnya, polisi tampak enggan berbagi informasi dengan kedua lembaga negara itu. Sikap semacam itu justru menambah kecurigaan bahwa polisi secara sistematis mengulangi teror penembak misterius (petrus) pada era Orde Baru. Dugaan itu tak mengada-ada jika kita membaca perintah pemimpin Kepolisian RI soal operasi pemberantasan begal ini.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian berkali-kali menegaskan bahwa setiap kepala kepolisian resor tak boleh ragu menembak begal. Kalau gagal membersihkan Jakarta dari begal, mereka akan dicopot dari kursinya. Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Aziz juga menyatakan bawahannya tak perlu ragu mengambil tindakan tegas. Sudah seharusnya Kepala Polri dan Kepala Polda Metro Jaya bertanggung jawab atas semua ekses negatif yang terjadi akibat perintah ini. Memberantas kejahatan dengan kejahatan lain tak akan memecahkan masalah. Penembakan begal hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan baru dan membuat Jakarta kian berbahaya buat warganya.

Categories
News

Konsep “Courtesy of YouTube” Sebuah Fenomena dalam Penerapan Hukum

Konsep “Courtesy of YouTube” Sebuah Fenomena dalam Penerapan Hukum Tayangan video YouTube kerap kali muncul di layar televisi. Muncul pertanyaan, apakah diperbolehkan menayangkan kembali video yang didownload dari YouTube tersebut? Bagaimana hukum di Indonesia melihat fenomena ini?YouTube bukan pemegang hak cipta atas video-video yang terdapat di dalamnya. Di dalam terms of service-nya pihak Youtube melarang adanya tindakan distribusi apa pun, termasuk untuk tujuan komersial tanpa ada perjanjian tertulis dengan YouTube. YouTube tidak bisa memberikan hak bagi broadcaster untuk menayangkan video dalam layanan mereka, baik itu siaran televisi atau film. Dengan penggunaan “Courtesy of YouTube”, pencipta video tetap tidak mengetahui bahwa videonya digunakan untuk kepentingan komersial dan tidak mendapatkan keuntungan atas itu. Pencantuman “Courtesy of YouTube”, alamat URL yang tidak jelas ataupun ucapan terima kasih kepada YouTube diakhir program acara belum melegalkan tindakan pihak televisi dalam memanfaatkan video-video dari YouTube tersebut. Pasal 57 UU No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”) menyatakan bahwa “ciptaan yang diambil tanpa izin penci pta tidak boleh digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial.”

Baca Juga : https://teknorus.com/wa-web/

Terlebih lagi hal tersebut telah melanggar Hak moral [atribusi atau pengakuan atas karya seseorang (Pasal 24- 26 UU Hak Cipta)] dan Hak ekonomi [kompensasi yang didapat pencipta atas karya kreatif yang diciptakannya (Penjelasan Pasal 2 UU Hak Cipta)]. Untuk itu, anjuran dari YouTube untuk menyebutkan nama asli pengunggah video dan perlunya untuk menyertakan deklarasi bahwa semua video yang mereka tampilkan diperoleh dengan sah dan tidak melanggar hak cipta, seyogianya diikuti. Perlu diingat bahwa pada kenyataannya YouTube melejitkan karir banyak orang dengan menawarkan kesempatan bagi seniman, musisi, penulis dan lain-lain untuk menjangkau audiensi yang lebih luas. Ini adalah sebuah fenomena dalam penerapan hukum yang mengindikasikan adanya ruang interpretasi hukum antara ketentuan hukum dan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat.

Ruang interpretasi ini adalah satu ranah yang luas dan menurut Lawrence M. Friedman dalam bukunya berjudul “The Legal System: a social Science perspective” ditentukan oleh perasaan hukum yang berkembang dalam perilaku hukum sebagai suatu perilaku sukarela yang tidak muncul dari motivasi tunggal. Namun fakta bahwa peraturan tidak ditegakkan mengisyaratkan bahwa pemegang otoritas tidak memandang serius peraturan tersebut sehingga legitimasi peraturan tersebut akan melemah. Legitimasi (kesahan) adalah keyakinan/kepercayaan kepada struktur atau prosedur yang mengacu pada suatu sikap umum kepada hukum, peraturan/sistem yang cenderung untuk menuntun orang melalui kesepakatan menuju kepatuhan. Lebih banyak orang yang skeptis dalam masyarakat modern dan legitimasi lebih bergantung pada hasil-hasil aktual yang menuntun orang untuk menyepakati apa yang dilakukan oleh sistem sebagai dukungan yang bergantung pada apakah hukum akan/terbukti berlaku dengan benar. Dalam konstelasi yang demikian, konsep “Courtesy of Youtube” secara proporsional didudukkan dalam bangunan hukum na sional yang tentunya tidak sesederhana membedakan warna hitam dan putih. Fenomena ini adalah fakta awal yang menunjukkan perlunya dibangun struktur bangsa Indonesia sebagai wadah bagi penerapan hukum dan bekerjanya sistem hukum.

Ibarat komputer maka softwarenya harus di-setting terlebih dahulu sebelum program-program di-download. Untuk itu struktur bangsa seyogianya dibangun terlebih dahulu sebagai wadah sebelum berbagai peraturan hukum dirancang dan diterapkan dalam sistem hukum nasional, sehingga melahirkan legitimasi sebagai sesuatu yang coba diraih oleh sistem-sistem hukum. Tanpa adanya langkah-langkah ini, penerapan hukum hanya akan jalan di tempat karena peraturan disusun dalam ruang hampa tanpa menyentuh kebutuhan masyarakat yang konkret akan hukum.