Saat Si Kecil Merasa Cemas

Rasa cemas yang normal merupakan bagian dari perkembangan emosional dan perilaku anak. Nah, bagaimana kalau sedikitsedikit ia merasa cemas? Pernahkah si kecil merasa cemas? Apa iya perasaan ini baru muncul di atas usia 3 tahun? Benar sekali, karena bayi dan batita cen derung tidak begitu khawatir pada banyak hal.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Tak heran, kita kerap melihat anak tampak cuek saat naik tangga, sementara kita sudah berteriak panik. Itu karena bayi dan batita belum memikirkan sebab akibat dari apa yang ia lakukan. Akan tetapi, di usia prasekolah, sejalan dengan perkembangan kognitifnya, anak mulai dapat membayangkan hal apa yang akan terjadi berikutnya, apakah hal baik atau buruk. Sebenarnya, rasa cemas adalah bagian normal dari perkembangan emosional dan perilaku anak. Si prasekolah mulai merasa cemas ketika harus berpisah dengan orangtuanya saat sekolah, khawatir saat berada di tempat gelap, atau saat bermain sepeda di depan rumah tetangga yang memiliki anjing.

Prasekolah juga lebih peka pada apa yang terjadi di sekitarnya, sehingga ketika kita dan pasangan sedang berbicara soal penyakit seorang kerabat, ia ikut menimpali, “Siapa yang sakit?” Begitu pun ketika tengah malam ia tiba-tiba terbangun dan mendengar suara piring jatuh, anak cepat bereaksi dan ketakutan. Mengapa si prasekolah bisa merasa cemas? Beberapa anak mungkin cenderung mudah cemas, karena bawaan lahir atau menurun dalam keluarganya.

Namun, sejatinya prasekolah juga bisa “mempelajari” bagaimana berpikir dan bertindak penuh kecemasan, dengan meniru orang-orang terdekat. Misal, orangtua yang overprotective pada anak, sehingga bersikap sangat melindungi. Saat bermain di playground, anak diikuti terus. Jika anak memanjat, kalimat pertama yang terucap, “Awas jatuh! Jangan tinggi-tinggi!” Untuk jangka pendek, anak mungkin akan baik-baik saja.

Namun, ke depannya, ia cenderung merasa cemas jika tidak bersama orangtua. Ia khawatir tidak bisa melakukan segala hal dengan baik, karena biasa dibantu dan dijaga orangtuanya. Ia jadi kurang berani bertindak, karena apa-apa membutuhkan persetujuan orangtua. Lebih sulit lagi, jika akhirnya anak takut berpisah dengan orangtua dan malah tidak bisa mandiri. Kecemasan bisa juga terjadi lantaran prasekolah pernah mengalami peristiwa menakutkan.

Sumber : https://pascal-edu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *